Minggu, 14 Juli 2013

The Art Of Solo Travelling







            Yup, Mungkin ini adalah post pertama saya yang berbeda dari yang sudah-sudah, bukan berarti saya sudah kehilangan minat saya kepada film, tidak kok, saya masih sangat mencintai film sama seperti dahulu, tidak berkurang, bahkan masi terus bertambah.Namun harus saya akui bahwa keterlambatan saya menyaksikan film-film yang beredar akhirnya membuat saya merasa sedikit malas untuk menuliskan reviewnya diblog ini.Keinginan menulis masihlah besar, namun apa daya terkadang minder rasanya mengupdate blog untuk tulisan yang terasa “basi” untuk dibaca.

Namun karena Blog ini adalah satu-satunya media saya untuk mengekspresikan keinginan diri untuk menulis, saya mencoba untuk menuliskan pengalaman-pengalaman hidup saya yang sangat sedikit untuk dibagikan di blog yang masih ala kadarnya ini.Namun bukan berarti bahwa saya melepaskan diri dari menulis tentang film yang adalah denyut nadi saya, tetap bila nantinya saya merasa menonton sebuah film yang sangat menginspirasi saya, saya tak akan segan untuk menulis dan membagi-bagikan nya di blog kecil yang sepi pengunjung ini.
            Selain film, bagi saya traveling adalah sebuah media pencarian jati diri yang menarik.Bila melalui film saya belajar makna-makna hidup melalui mata dari para penulis naskah, melalui traveling saya langsung terjun langsung untuk belajar mengenal budaya dan tradisi-tradisi baru dari tempat-tempat yang saya kunjungi.Ada banyak sekali hal-hal yang saya pelajari ketika saya melangkahkan kaki memanggul ransel mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi.Travelling disini tentu yang saya maksudkan adalah menjadi seorang backpacker pergi menjelajah tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi hanya dengan bermodalkan sebuah ransel dan berbagai macam informasi yang dikumpulkan dari sana dan sini.
            Dalam tulisan yang “perdana” ini, saya hanya ingin sedikit berbagi bagaimana rasanya melakukan sebuah perjalanan solo traveling.Ya solo traveling adalah perjalanan yang dilakukan secara sendirian, tanpa seorang atau beberapa teman yang dapat membantu kita bila kita mendapatkan sebuah kesulitan.Sedikit kilas balik, saya baru saja melakukan perjalanan selama dua minggu full, melintasi beberapa Negara dan beberapa destinasi dengan budaya dan karakteristik yang berbeda.Saya tidak (belum) akan bercerita tentang apa saja Negara dan destinasi yang saya kunjungi, karena bukan itu yang ingin saya bagikan.
            Namun yang ingin saya bagikan adalah bahwa sebelum saya  melakukan perjalanan ini, saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya melakukan perjalanan keluar negeri dan secara solo travelling, dan tentu saja, saya tidak pernah tahu bagaimana cara melakukan perjalanan ini.Dan lagi saya juga tidak menemukan teman yang mau ataupun bisa diajak melakukan perjalanan ini bersama saya.Namun apakah saya akhirnya mengurungkan niat saya untuk pergi ? tidak, bukan karena saya ingin bertingkah seperti pria pemberani yang bisa berlagak seperti jagoan.Namun karena saya ingin menyelami apa yang menjadi esensi dari sebuah kata traveling/perjalanan itu sendiri.
            Ketika saya mengutarakan rencana saya ke orang-orang sekeliling saya bahwa untuk pertama kali saya berbackpacker ke luar negeri dengan “langsung” mengelilingi beberapa Negara yang berbeda seorang diri, hampir semua sekeliling saya  mengatakan bahwa rencana saya adalah sesuatu yang tidak masuk akal.Semua mengutarakan bahwa seharusnya saya membawa setidaknya satu teman sebagai pendamping, atau membatasi destinasi saya hanya di satu destinasi saya sebagai latihan saya menjadi seorang traveler.
            Jujur  saya sempat ciut dan berpikir bahwa apakah salah ketika kita memutuskan untuk pergi sendirian berperjalanan ?ataukah memang ada esensi lain yang saya tangkap namun tidak ditangkap oleh sekeliling saya? Sempat maju mundur memutuskan Namun syukurlah pada akhirnya saya mencoba tetap melakukan perjalanan ini.
            Saya tidak akan bicara ngalor ngidul tentang bagaimana perjalanan ini dilakukan, karena bukan itu yang ingin dibagikan.Yang ingin saya bagikan adalah bahwa betapa sebuah solo traveling itu adalah sebuah pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang dan kiranya perlu dilakukan oleh setiap orang setidaknya sekali seumur hidupnya.
            Apa yang saya dapatkan dari sebuah perjalanan solo ?  banyak sekali, terutama pengalaman yang mengajarkan saya menjadi lebih mandiri.Namun yang paling terpenting adalah, bahwa ketika saya melakukan perjalanan ini, saya merasakan pengenalan diri yang lebih kuat akan siapa diri saya, yup, saya tidak mau mencoba berbohong dan munafik, ada berbagai macam perasaan yang saya dapatkan, termasuk ketakutan diperjalanan, namun semuanya itu pada akhirnya bermuara ke satu hal, yaitu pengenalan akan diri saya sendiri jauh kedalam diri.
            Awal mula ketika saya melangkah turun disebuah pelabuhan di destinasi pertama saya , rasa takut melanda ke dalam diri, bisikan dalam diri terus bertanya apakah saya akan selamat dalam perjalanan saya ini.Namun lambat laun, bisikan ketakutan itu terkikis sedikit demi sedikit dan berganti dengan keoptimisan bahwa saya akan baik-baik saja sepanjang perjalanan saya.
            Ketika destinasi berganti, kembali rasa takut itu melanda kedalam diri, namun dengan satu destinasi yang sudah terlewati, rasa takut itu tidaklah semenakutkan seperti awalnya, namun berganti dengan rasa penasaran yang semakin membuncah ingin menelusuri tempat-tempat baru yang terpampang didepan mata.
            Tahukan apa yang menyebabkan ketakutan bagi seorang individu ketika dia berada di tempat yang baru?, jawabannya adalah “perbedaan”, ya, itu lah yang menyebabkan kita ketakutan ketika kita berada di tempat yang baru.Kita merasa sekeliling kita adalah sesuatu yang “berbeda” dari kita, dan karena kita berbeda dari mereka, mereka akan datang untuk mencelakakan kita.Itulah mengapa ketika kita telah berada beberapa waktu disebuah tempat, secara perlahan rasa takut kita menghilang karena kita merasa bahwa sekeliling kita telah menjadi sesuatu yang kita kenal dan tidak berbeda dengan kita.
            Hal lain yang dirasakan ketika kita telah melakukan solo travelling jelas adalah kita belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, ketika kita melangkah sendirian, kita secara otomatis menjadi lebih aware dengan apa yang menjadi kebutuhan kita, sebagian karena didorong oleh rasa takut bila terjadi apa-apa (which is good), tanpa kita sadari kita berubah menjadi pribadi yang lebih awas dan menjadi lebih terstruktur dalam bertindak dan mampu menjadi lebih tenang ketika masalah menimpa.
            Ketika saya mengutarakan keinginan saya untuk melakukan solo travelling, sebagian besar alasan yang mengatakan tidak setuju selain soal keamanan, adalah bahwa melakukan solo travelling tidaklah mengasyikkan dan menyulitkan kita untuk berfoto ditempat-tempat yang kita kunjungi.Jujur saya sangat tidak suka dengan alasan yang satu ini.Ketika mereka belum pernah melakukan solo travelling, bagaimana mungkin mereka tahu kalau solo travelling adalah pengalaman yang tidak mengasyikkan ?
Sedangkan  perihal foto, jujur saya harus mengkritik soal ini karena menurut saya bagi banyak orang  falsafah ber “travelling” itu sama dengan “mengunjungi”.Itulah mengapa foto diri bagi kebanyakan orang yang “mengunjungi” itu menjadi sangat-sangat penting, karena hanya itulah yang mereka cari dalam “travelling”.Semakin banyak foto diri yang berhasil mereka kumpulkan untuk dipamerkan, semakin berhasil lah mereka (kira mereka)  bertravelling.
Padahal bagi saya bukan itu esensinya ketika kita bertravelling, saya ingin menelusuri tempat-tempat baru karena saya ingin  memperkaya pengalaman diri saya, bagi saya tolak ukur “keberhasilan” travelling saya adalah ketika saya mampu mengeksplorasi tempat yang dulunya asing bagi saya, namun kemudian menjadi tempat yang bersahabat bagi saya ketika sudah saya kunjungi.Perihal foto, saya justru lebih tertarik mengamalkan hobby fotografi saya ketika melakukan perjalanan untuk menangkap gambar-gambar indah sebagai kenang-kenangan perjalanan saya.Saya sama sekali tidak  ngoyo untuk mengumpulkan foto diri tuh.
Kembali lagi ke solo travelling, percayalah, berpergian sendirian itu bukanlah sesuatu yang aneh atau tidak waras, namun sebaliknya, itu adalah salah satu jalan kita untuk lebih mengenal siapa diri kita, bagaimana kita bertindak, dan juga secara tidak langsung akan mengupgrade kemandirian kita menjadi lebih baik.Jangan pendam keinginan travelling mu dengan pendapat orang lain yang bahkan tidak pernah melakukan solo travelling itu sendiri.Langkahkan kaki mu ketika rasa ingin bertualang itu datang, sendiri atau pun tak sendiri, keep walking.

           

9 komentar:

Anonim mengatakan...

Nice post...
Ada beberapa hal yg mau saya sharingkan sebagai tambahan post anda..
Travelling is my new hobby..well..walau awalnya saya tidak suka travelling. Namun tanpa sadar it becomes my new hobby.
Singkat cerita, working and travelling has become my new life. Tanpa sadar working and travelling has changed my life.
Suatu saat ketika saya ada di sebuah kota, muncul pertanyaan:
- Travelling makes me happy, membuat saya merasa menjadi diri yang baru. tapi sampai kapan? after that your real life is waiting for you.
- Untuk apa sibuk bertravelling sana sini? what's the reason? melarikan diri dari jenuhnya kehidupan? menyenangkan diri? membuang-buang uang?

So, adakah anda berpikir hal yang sama saat itu? di saat anda sampai pada satu titik jenuh, then you start to think "am I doing right?". You start to think "look at others, when others are busy preparing their future, but what did you do? spent your whole time for working and travelling"

novry mengatakan...

Terima kasih buat sharingnya 
Saya akan mencoba membagikan pendapat saya juga akan hal yang anda sampaikan, sekali lagi ini hanyalah pendapat untuk dibagikan dan bukan berarti saya mengklaim saya yang benar dan berusaha menggurui 

Saya yakin kita semua pernah bertanya kepada diri sendiri pertanyaan yang anda ajukan di atas.
Tapi yang saya katakan adalah, hidup yang “benar” itu seperti apa ?, saya yakin tidak banyak juga orang yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, sehingga yang terjadi adalah, kita mengikuti arus kehidupan yang dilakukan oleh SEBAGIAN besar orang, dan kita mengganggap bahwa itu lah hidup yang “benar”,(padahal didalam hati mungkin mereka sendiri tidak suka dengan apa yang mereka jalani )

Sekarang coba kita pandang dr sudut yang berbeda, mengapa traveling dianggap tidak “benar” atau menghabiskan waktu atau tidak termasuk dalam mempersiapkan masa depan.
saya akan menjawab , “really”?, saya pikir ini dua hal yang berbeda.

Coba sekarang pikirkan, apa sih sebenarnya beda nya traveling dengan hobby lain ? misalnya hobby bermain bulutangkis (people spend their money to buy a racket or a ball), atau hobby menembak (orang menghabiskan uang untuk membeli peralatannya) atau hobby lain seperti fotografi, film, dll..sampai yang paling ekstrim, menghabiskan uang mereka hanya untuk bergonta ganti gadget mewah..tidak ada bedanya dengan traveling toh ? sama-sama menghabiskan biaya, dan sama-sama membuat orang tersebut menjadi lebih expert dalam bidang dari biaya yang ia habiskan.

Sekarang kita kembali ke hal yang dianggap benar ? apa itu ? bekerja dengan benar dan kemudian menabung, kemudian punya taraf kehidupan/karier yang lebih baik.Kemudian apa ? menghabiskan apa yang kita dapat dengan melakukan apa yang kita cintai bukan ? salah satunya adalah traveling..jadi,mengapa harus menunggu lama baru melakukan hal yang kita cintai ?

Saya tidak tahu apakah sharing saya ini menjawab pertanyaan anda, tapi menurut saya, tidak ada satu rumusan hidup yang “benar” yang dapat berlaku bagi semua orang, hanya karena kita tidak melakukan hal seperti yang kebanyakan orang lain lakukan, bukan berarti yang kita lakukan tidak benar.

Saya sendiri sangat mencintai film, dulu saya sering merasa bersalah dengan hobby saya ini, menganggap bahwa saya tidaklah melakukan hal yang benar atau tidak serius menjalani hidup.Namun sekarang saya justru menyesal mengapa saya tidak menekuni sekolah atau karier yang berhubungan dengan film karena ditempat itulah saya punya kecintaan yang sangat besar.

Bila anda bertanya, saya akan katakan bahwa yang saya/kita lakukan sekarang adalah benar, Saya menganggap bahwa apa yang saya lakukan dengan travelling atau menonton film, adalah bagian dari menemukan siapa diri saya, melakukan hal yang saya cintai, menjadikan diri saya menjadi lebih bahagia dan yang terpenting adalah : MENJADI DIRI SAYA SENDIRI.
Kalau pertanyaan nya adalah : untuk apa traveling, saya akan jawab : “because this makes me happy, and I don’t need another reason to do that”

“Kapan saya kembali ke real life ?”, saya akan jawab “this is a real life for me”
Siapa tau suatu hari nanti kita bisa mencari uang dari traveling bukan ? 

Mohon maaf bila ini tidak menjawab sharing anda 


Anonim mengatakan...

Thanks buat tanggapannya..
Oh ya, next di saat anda travelling lagi, cobalah hal ini. This was what I did last week.
"you're alone in one city with no one know you and you're alone in one room, then start to think about yourself.everything about your self.everything you did, everything you said"
You'll find so many things that you couldn't find it although you're alone in your house and your bedroom.
You'll regret the things you did wrong, you'll miss the chances that you waste, you'll miss the people you hurt and then finally you'll realize that time past so fast while you're busy with working and travelling.
Mengutip perkataan anda "because this makes me happy"...yup saya setuju. but about "i don't need another reason to do that" I'm sorry I disagree with you. Everything in our life always has a reason. A reason why we do it, a reason why it happened.

Anonim mengatakan...

sorry...satu saran lagi..eh bukan saran deh...lebih tepatnya request..
Cobalah membuat satu blog lagi berisi tulisan anda seputar nilai-nilai kehidupan dan pengalaman hidup.ya salah satu nya seperti the art of solo travelling ini. lebih menarik untuk dibaca daripada mereview film-film.
Sorry...it's just a request..

novry mengatakan...

Terima kasih, saya akan coba untuk melakukan hal yang sama ketika saya traveling lagi nanti..:)

dan membuka blog satu lagi memang sepertinya ide yang bagus, walau saya masih ragu blog nya nanti akan banyak tulisannya karena pengalaman saya yang masih cekak dalam hidup hehe.., tapi terimakasih sekali untuk ide nya ya :)

Mungkin benar perkataan bahwa hidup adalah soal pilihan 
Mungkin di seberang sana, orang lain yang hidupnya “benar” juga merasa bahwa waktu berlari sangat cepat, dan juga sedikit menyesali mengapa dia tidak menghabiskan waktunya lebih banyak untuk melakukan hal yang dia cintai ?who knows ?

Mungkin sisi baiknya traveling itu justru seperti yang anda rasakan kemarin, itu memberi ruang bagi kita untuk sendiri untuk kemudian berpikir tentang hal-hal yang kita lewatkan dalam kehidupan kita.

Dan asumsi saya, kita juga tidak menggunakan seluruh waktu kita buat traveling bukan? Mungkin hanya berapa persen dari satu tahun yang kita pakai, mungkin hanya 30 hari dari 360 hari yang kita pakai..so mungkin tidak terlalu banyak juga “membuang” waktu bila kita memang ternyata traveling itu bukanlah hal yang “benar”

Dan soal saya katakana alasan saya traveling : “it makes me happy and I don’t need another reason to do that”..yang saya maksudkan adalah, bahwa kebahagiaan yang saya rasakan ketika traveling, adalah alasan yang bagi saya sudah cukup untuk membuat saya melangkahkan kaki, dan menurut saya, alasan yang cukup kuat itu tidak memerlukan alasan lain untuk mensupport nya.

Tapi sekali lagi, saya juga masih mencari makna hidup dan masih harus banyak belajar, jadi mungkin saya memang belum bisa banyak memberikan tanggapan yang memuaskan akan sharing ini, karena memang ini semua masih lah proses pembelajaran yang mungkin tak akan pernah usai.

Trims ya sudah berkunjung disini

Anonim mengatakan...

Yup...life is about a choice. and there is always a reason for everything that we choose.why do you choose A, why do you choose B, etc.
why do I start to like travelling?
- because it's part of my job
- because I want to forget those things I want to forget
- because I want to find and to feel new situation, new environment, new society
- and then it makes me happy although it's temporary..because after that your real life, your real society is waiting for you.

Have you ever feel live like a robot? You wake up in the morning then you go to work. At the evening you go home, watch some movie and then go sleep. next you visit one city to another and next you go back to work. and so on..and so on..

"sometimes in life, there's a choice, but we can't make a choice". Is it true?

Well,it's not that we can't make a choice, but we're too afraid to choose.

novry mengatakan...

we afraid to choose because we afraid to make mistake..we afraid to make mistake because we cant forgive ourself..so learn how to forgive ourself..

Anonim mengatakan...

well...I'm glad to argue with you...
Please think about my request to make one more blog.

Btw, I want to know your opinion about "coincidence" and "destiny". what do you think about those two things?

Perhaps you can write it down on your next blog. or maybe you can send email to me at bweastsoft@gmail.com.
Thanks.

novry mengatakan...

thank you buat advice nya :)