Kamis, 13 Desember 2012

Serial LIE TO ME (2009-2011)


LIE TO ME (2009- 2011)
Cast : Tim Roth, Kelli William
Creator : Samuel Baum


Iseng, ya, hanya karena melihat judulnya yang unik, dan sosok Tim Roth yang terkesan manipulatif namun slengekan diposternya, saya memutuskan untuk menjajal serial keluaran (kalau gak salah sih Fox) 2009 lalu ini.serial yang malah kayanya kalah populer dengan serial dari negeri ginseng yang punya judul yang sama.Yang jelas saya tidak tertarik (dan kayanya ga bakal tertarik) untuk menjajal serial versi korea nya.Lagipula sepertinya kesamaannya dua serial ini hanya dijudul saja, alias tidak ada hubungan sama sekali satu sama lainnya.
Btw balik lagi ke Lie to Me versi barat, dengan jargon nya “The truth is written all over our faces” , memang menceritakan tentang sebuah biro  investigasi swasta yang bekerja sama dengan pemerintah untuk menyelidiki kasus-kasus unik yang tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa.Dipimpin oleh Carl Lightman (Tim Roth), dan digawangi oleh para personel antara lain, Gillian Foster (kelli Williams), Eli loker (Brendan hines), dan Ria Torres ( Monica Raymund)..*kagak kenal semua ya namanya :d * , mereka melakukan berbagai macam investigasi, baik dari pembunuhan, skandal, perselingkuhan, sampai tragedi politik.Uniknya adalah, investigasi nya dilakukan dengan cara mewawancarai para pelaku kejadian, dan melihat respon yang ditunjukkan dari mimik wajah mereka.Dengan reputasinya sebagai “pembaca wajah”, para pendekar ini dapat mengetahui perasaan para “tersangka” ketika sebuah pertanyaan diajukan, mulai dari marah, takut, cemas, menyembunyikan sesuatu, sampai melakukan kebohongan.Nah dengan mengetahui tentang perasaan itulah mereka mengembangkan kasus yang ada untuk akhirnya mencari kebenaran yang sebenar-benarnya dalam setiap kasus.
Yang menarik adalah, bahwa penilaian psikologis dari perasaan setiap tersangka itu jelas tidak dapat menjadi sebuah bukti dalam sebuah perkara hukum (istilah gampangnya, tak mungkin bisa menyeret seseorang yang bersalah hanya dengan perkataan).Karena itulah dengan hasil investigasi psikologis tersebut mereka harus mencari cara agar para pelaku kejahatan tersebut akhirnya dapat mengakui kejahatan yang mereka lakukan dan dapat diseret ke meja pengadilan.
Setelah menonton season pertama yang hanya berjumlah 13 episode, tak disangka ternyata serial yang sepi hype ini mampu membuat saya tertarik dan setia menekuni season berikutnya.Walau kasus-kasusnya harus diakui cukup sederhana, namun Samuel Baum (the creator), pintar untuk “merumitkan” permasalahannya dengan mencampur beberapa konflik lain yang “kebetulan” juga terungkap dalam investigasinya.Sehingga pencarian kebenarannya menjadi tidak sesimpel membalikkan telapak tangan.Hampir disetiap episode, kita diajak untuk membuka labirin-labirin kemungkinan tersangka, yang bagi saya sangat mengasyikkan (seperti menonton cerita detektif namun versi psikologis) dan kemudian diakhiri dengan  “menipu” tersangka untuk tanpa sadar akhirnya mengakui kejahatannya, trik-trik yang para penonton pun tak ketahui karena baru terbuka pada akhir episode.
Satu tips ketika menonton, nyalakan timernya, bila timer belum merujuk menit-menit terakhir, itu berarti masih akan ada kejutan yang muncul.
Dengan titik berat di masalah pekerjaan, sang creator mencoba menyelipkan elemen drama kekeluargaan setiap karakter didalamnya, khususnya Carl lightman.yang sayangnya harus saya akui gagal total, ketika mencoba menyelipkan beberapa pesan moral dalam pergulatan kehidupan pribadi Lightman, dimana ia sudah berpisah dengan istrinya dan kini mengasuh anak semata wayangnya (Emily), memang di awal-awal season cukup mengena, namun sayangnya semakin lama semakin keliatan kalau tidak berkembang kemana-mana, dan ini ditambah lagi dengan kesan-kesan romansa malu-malu yang coba diselipkan antara Ligtman dan Foster yang sekali lagi juga membingungkan dan tak jelas kemana arahnya.Satu-satunya pesan moral yang cukup berhasil disampaikan adalah, bahwa Lightman mendirikan biro investigasi ini untuk mencari yang namanya kebenaran, dan mereka mempertahankan idealisme pencarian kebenaran itu di atas uang, walaupun kebangkrutan perusahaan adalah taruhannya.
Memasuki season kedua, alur cerita menjadi sedikit berubah, ketika season 1 kasusnya sedikit ringan, dan mengajak penonton untuk menebak-nebak pelaku nya, season kedua kasus-kasunya menjadi lebih complicated dan berat, karena melibatkan kehidupan pribadi para penyidiknya.Namun sayangnya pelakunya menjadi lebih sering tertebak, atau minimal tidak terlalu menimbulkan keterkejutan seperti serial-serial di season pertama.Dan sayangnya kelemahan season pertama yang tidak mampu mengeksplorasi kehidupan pribadi antar karakter kembali berulang, dan bahkan malahan terkesan semakin amburadul.
Dari sisi akting, Tim Roth cukup natural untuk memerankan Lightman, yang cerdas, manipulatif, namun terkesan menyebalkan dan tidak mempunyai hati nurani.Walau dibalik itu dia sebenarnya adalah seorang ayah yang sangat protektif kepada anak semata wayangnya dan tegas menjunjung filosofi biro nya, yaitu menyuarakan kebenaran di atas segala-galanya.Gillian Foster sebagai partner setara Ligtman cukup lumayan dibawakan oleh Kelli William, walau sekali lagi, hubungan antara keduanya terkesan super nanggung, dengan bibit-bibit romantisme yang di tebar, namun tidak jelas kelanjutannya.karakter lain seperti Loker, Torres dan Reynold yang muncul mulai dipertengahan season 1, memang mau tidak mau harus minggir untuk memberikan highlight kepada duet lightman dan foster, walau dibeberapa episode mereka diberikan porsi yang cukup besar.
Overall, mungkin karena saya adalah penggemar cerita detektif dari kecil, dan suka dengan cerita beraroma thriller, tanpa disangka serial “kecil” ini muncul dan masuk dalam daftar list favorite saya, banyak serial televisi yang saya jajal, namun tak banyak yang membuat saya tertarik untuk melanjutkan lebih dari 1 season, praktis hanya DEXTER, LOST,  atau Sherlock (versi bbc 2011) , serial bergenre crime yang mampu membuat saya kepincut dan setia mengikuti, dan Lie to Me kini masuk kedalam jajaran favorite saya, walau sayangnya serial ini hanya tayang  sampai season 3 (mungkin karena tipe nya yang tidak cocok ke semua kalangan).Sampai review ini saya baru menyelesaikan season ke 2 nya, dan saya berharap season terakhirnya nanti akan jadi penutup yang manis.


12 komentar:

Nugros C mengatakan...

wah..kadang nonton di B Channel nih, cuma ga selalu ngikutin

suka banget sma karakternya Monica Raymund..
Tim Roth juga ajib banget penampilannya dimari

novry mengatakan...

raymund kesan sexynya ok hehe..tim roth terkesan overact nieh di season 2..jd menyebalkan kelihataNnya..

Nugros C mengatakan...

pertanyaan..ane, emang ada yg kerjaan kaya mereka?
(di Indonesia? hihi)

iya sih kadang2 Tim Roth malah terlalu offensif, jadi kaya protagonis yg ga likeable (kadang2 doang sih ^^ )

novry mengatakan...

..ada yg kritik kalau lightman nya tim roth terlalu sempurna tanpa cela..kalau dipikr2 emang keliatan terlalu arogan..kalau di indonesia kerjaan gini dinamai paranormal haha...

Anonim mengatakan...

Yang puya versi awal sampe versi 2 bagi2 dong, buat tugas kuliah
kirim emailku, yohanespopo@ymail.com

Fariz Razi mengatakan...

Eh ini juga salah satu tv series favorit saya! Sayang sih di-cancel padahal bagus bgt :)

novry mengatakan...

iya nieh..dalam kata lain..the serial "is not infinite"...haha..kidding..

cinrara mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
cinrara mengatakan...

siapa yang punya film itu lengkap? minta rujukan downloadnya donk.. aku pengen lihat lagi..

novry mengatakan...

aduhh maaf..saya nonton beli dvd nya..enggak download..coba cari di forum2..bnyak yg jual kok :)

Carrie Meiriza Virriysha Putri mengatakan...

enggak ada link downloadnya yah?! Huhuhu...pengen punya full episode

Carrie Meiriza Virriysha Putri mengatakan...

Enggak ada link downloadnya yah?! Pengen punya full episode :-P