Kamis, 22 November 2012

Brave (2012) : Left Brain Vs Right Brain


BRAVE (2012)


            Merida adalah seorang putri raja yang hidup di dataran tinggi scotlandia, bersama orang tua yang sangat menyayanginya dan 3 adik yang masih kecil-kecil.Walau wanita namun Merida justru mewarisi sifat khas dari sang ayah yang tomboy dan berantakan.Dibanding mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ratu yang feminine, Merida justru lebih suka mengikuti jejak ayahnya menjelajah alam dan mengasah kemampuannya berkuda dan memanah.
            Masalah kemudian muncul ketika orang tuanya (khususnya ibu nya) mengadakan sayembara untuk menjodohkan merida dengan pangeran dari kerajaan tetangga.Merida yang berontak kemudian akhirnya berkonflik dengan ibu nya, dan kemudian melarikan diri ke hutan dimana akhirnya dia bertemu dengan seorang penyihir yang akhirnya memberikan ramuan yang menjanjikan dapat merubah ibu nya menjadi pribadi yang diinginkan oleh Merida.Sayangnya ternyata Ibu nya berubah menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh Merida ( dan kita semua :d ).
            Dari segi teknis, animasi, scoring, narasi, dan lain-lainnya..the movie is fine..Not Incredible..Not Great…just fine. Fine dalam arti sesuai standart Pixar , walaupun tidak sedahsyat pendahulunya seperti Toy Story ataupun Up.Kisah nya sebenarnya boleh dibilang predictable dan sudah banyak dipakai sebelum-sebelumnya.Dan we definitely udah tau akhir kisahnya.So what makes this movie so special for me?
            Menurut para ahli,  otak manusia terbagi menjadi dua, otak kiri dan otak kanan.Otak kiri adalah otak yang cenderung teratur, tertata dan perfeksionis sedangkan otak kanan cenderung melompat-lompat dan liar.Dalam dunia psikologis otak kiri diasosiasikan dengan karakter Melankolis sedangkan Otak kanan diasosiasikan dengan karakter Sanguin.          
            Disini lah yang menjadi inti cerita dari Brave, bagaimana terjadinya tabrakan karakter antara seorang ibu yang melankolis (atau dipaksa menjadi melankolis karena kondisinya sebagai seorang ratu) dengan karakter Merida yang sejatinya adalah seorang anak sanguin yang ingin bebas lepas.Bukankah ini konflik yang biasa terjadi di dunia nyata bukan ? konflik yang selalu berulang dan tak pernah ada penyelesaian yang pasti.
            Mengapa saya langsung jatuh cinta kepada BRAVE, karena kebetulan saya memang terlahir berkarakter sama dengan Merida, dan saya bisa merasakan dengan pasti apa yang dirasakan oleh merida (dan saya yakin juga banyak pribadi lain yang berkarakter yang sama yang juga bisa merasakan ).Bagaimana merasakan lahir dengan kepribadian yang ingin bebas lepas,spontan, tak beraturan, dan melakukan hal-hal hanya berdasarkan apa yang menyenangkan hati tanpa memikirkan alasan apapun.Dan saya juga tahu bagaimana rasanya harus “dipaksa merasa bersalah” karena tidak bisa mengikuti aturan dunia yang menginginkan kesempurnaan dan keteraturan.Ketika melihat adegan Merida bebas lepas diiringi lagu “Touch the Sky” dari Julie Fowles, itu melambangkan kebahagiaan pribadi seorang sanguin yang mengikuti kata hatinya.
            Tentu ini bukan berarti bahwa saya menyalahkan karakter sang ibunda yang melankolis dan menginginkan keteraturan, karena ini semua memang dimaksudkan baik adanya, dunia memang butuh keteraturan untuk berputar bukan ?, disinilah keberhasilan Pixar dalam meramu konflik ibu dan anak ini, pada akhirnya tidak ada peran yang benar-benar protagonis dan antagonis.Semua berkisar tentang konflik antara dua karakter yang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing.Konflik tersebut kemudian berlanjut bagaimana kedua belah pihak yang saling berseteru ini akhirnya harus sama-sama “menderita” dan menanggung akibatnya, namun justru akhirnya merekatkan kembali hubungan mereka berdua.
            Nah perjalanan konflik menuju akhir cerita ini berhasil digodok dengan ramuan lain yang sesuai kadarnya dengan anak-anak namun juga mampu menggugah penonton dewasa, walau memang terlepas dari plot hole yang bertebaran, namun dapat dimaklumi karena ini memang konsumsi untuk anak-anak, namun Pixar tidak lupa untuk tetap mempertahankan ciri khas nya dengan karakter-karakter yang memorable dan bertingkah lucu dan komikal ( terutama adik-adik kecil Merida )
            Pada akhirnya Saya senang dengan pesan akhir dari film ini (yang diwakili oleh perkataan Merida) , bahwa nasib itu dapat diperjuangkan menurut keyakinan kita, walaupun butuh proses yang memang terkadang “mengerikan” dan menyakitkan, namun itu semua pantas untuk dijalani karena itu akhirnya akan menjadikan kita sebagai diri kita sendiri dan hidup menurut karakter asli dimana kita dilahirkan, bukan untuk hidup menurut perkataan ataupun tuntutan orang lain ( In a good way ).Dan Untuk menjalani itu kita butuh sesuatu yang bernama keberanian.

            Note : Soundracknya bagus-bagus lo, dari “Touch the sky, Into the open Air, Learn me right”, dan juga jangan lupa, aksen Scottish Merida yang kental banget mampu disuarakan oleh Kelly McDonald

2 komentar:

Hilman Manchunian mengatakan...

boleh tukar link? http://seputarmovies.blogspot.com/

novry mengatakan...

sipp bro..

Link..